Saturday, December 20, 2008

Antara Suamiku Dan Ayahku

Sebagai anak tertua aku mempunyai tanggung jawab untuk membantu orang tuaku membiayai kehidupan sehari-hari dan biaya sekolah adik-adik. Ayahku hanyalah seorang petani penggarap sehingga setelah lulus sekolah SGO (Sekolah Guru Olahraga) aku lebih memilih untuk bekerja. Dan telah kulalui masa-masa berat itu selama 13 tahun.

Alhamdulillah, dua dari ke tujuh adikku dapat menamatkan kuliahnya sedangkan salah satu aku titipkan pada temanku ikut bekerja sedangkan yang lainnya mendapatkan pekerjaan dengan usaha sendiri. Namun harga yang harus aku bayar, aku telat untuk menikah.

Aku hanya berdoa kepada Allah mohon diberi seorang suami yang dapat membimbingku dalam hal agama ataupun hal lainnya. Alhamdulillah Allah kabulkan do’aku.

Banyak ujian hidup sudah kulalui dan Alhamdulilah aku selalu bisa mengatasinya. Namun, ujian yang satu ini begitu berat. Tapi, Alhamdulillah aku dapat mengatasinya pula.

Pada tanggal 18 desember 2008, adikku datang ke rumah mengabarkan bahwa ayah kami sedang menjelang ajalnya dan sebagai anak tertua aku harus hadir. Sementara itu suamiku sedang sakit pula.

Pada saat itu aku dihadapkan pada dua pilihan. Datang menengok ayahku ataukah tetap disamping suamiku yang sedang sakit keras yang tidak dapat aku tinggalkan.

Maka aku memberanikan diri meminta izin suamiku tapi suami tidak mengijinkan. Akupun tidaklah mungkin tega meninggalkan suamiku yang sedang terkulai lemah yang membutuhkan perhatian yang maksimal dari istrinya. Maka sebagai seorang istri yang mengakui bahwa suami adalah pemimpinku, akupun mematuhi suamiku.

Aku teringat pada sebuah hadits :
“Dari Anas, ujarnya: “Rosululloh SAW bersabda: “Tidak patut seseorang sujud kepada orang lain. Sekiranya seseorang patut sujud kepada orang lain, tentu aku akan perintahkan seorang istri sujud kepada suaminya, karena begitu besar haknya kepada istrinya itu” (HR. Nasa’i)

Saat itu aku menangis. Keduanya orang yang aku sayangi dan aku hormati. Namun yang aku tahu, hak seorang istri adalah suaminya. Namun, apakah adik-adikku tahu akan hal ini? Sedang keilmuan agama mereka aku tahu betul.

Beberapa menit kemudian aku menerima telepon dari omku dengan nada marah dan sedikit memaksa yang menyuruhku untuk datang menengok ayah.
Akupun mohon maaf pada om bahwa aku tidak bisa datang karena suamiku sedang sakit keras.

Lalu beberapa menit kemudian adikku sms mengabarkan bahwa ayah telah meninggal dunia pada jam 1.55 wib. "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun", aku menangis di samping suamiku yang terbaring lemah di tempat tidur.

Ya Allah.....