Showing posts with label Kisah Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Kisah Kehidupan. Show all posts

Sunday, June 27, 2010

Jangan Pisahkan Aku Dengan Anakku Megami

Gerimis tak kunjung reda juga, aku pacu sepeda motor inventaris toko dimana aku bekerja dengan kecepatan yang sedang. Kurang lebih 300m aku akan sampai tujuan, sekilas karena helm tertutup air hujan aku melihat sebuah mobil container pengangkut rotan berada di depanku di sisi kiri jalan.

Ayatul Kursi Muslim Islamic Pendant Dog tag Necklace           Sterling Silver Islamic Hamsa Hand of Fatima Charm Pendant
Aku ambil kanan untuk menyalibnya, tapi …. doR!!!....cessss…. ngik!!! Dugdug… dugdug… dugdug… aku berada dalam dunia sadar dan tak sadar, dadaku terasa sesak untuk bernapas dan yang lebih dari itu ada rasa sakit yang luar biasa di sekitar pinggul kiri dan lutut kaki kiriku.

Aku menjerit, “sakiiit….! Sakiiit….! Abii…! Abii…!” kaki kiriku terikat kain serba putih yang membalut papan sepanjang pinggulku hingga tumit. “ya Allah… ya Allah,” sakit ini luar biasa sekali.

Sterling Silver Polished Allah Ring, size 9     Islamic Evil Eye Neckalce
Beberapa jam kemudian aku melihat kedatangan sosok yang membuat aku bertahan. Sosok yang tetap tenang ketika musibah menerjang. Dialah suamiku, memberiku semangat untuk mengingat asma-Nya ketimbang kata-kata yang tak berguna. Dia membelaiku, mengusap-usap rambutku sambil ku dengar ia berdesis "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun, Allahumma ajurni fii musibati, wakhlufli khoiron minha" itulah yang selalu diulang-ulangnya.

Moslem or Muslim Shrines - WATCHBUDDY® DELUXE TWO-TONE THEME WATCH - Arabic Numbers - Blue Leather Strap-Children's Size-Small ( Boy's Size & Girl's Size )                   Shahadah Islamic Muslim kalema Tag Pendant Necklace
Setelah suamiku berkoordinasi dengan pihak mobil yang menabrakku dan dengan pihak rumah sakit, aku dimasukkan ke dalam mobil ambulance. Aku baru ingat bahwa suamiku paling menghindari berurusan dengan polisi maupun rumah sakit. Itu sudah harga mati prinsip suamiku yang diterapkan pada keluarga kami.

Mobil ambulance membawaku ke suatu desa terpencil yang sebenarnya dekat dengan tempat tinggal orang tuaku. Desa itu bernama “Kejuden blok walikukun”. Di blok tersebut tinggal seseorang yang biasa dipanggil “Bapa Dik” yang dikenal sebagai “Ahli dalam hal patah tulang.”

Di pengobatan patah tulang ini bapa Dik merawatku dengan penuh kesabaran dibantu tiga orang anak beliau. Semua balutan dari rumah sakit dilepas dan diganti dengan balutan kayu baru yang terlebih dahulu tulang-tulangku yang patah disambungkan oleh bapa Dik.

Aku baru sadar mengapa ketika di rumah sakit kakiku dipaksa diluruskan dengan papan lalu dibalut ikatan kain dan terasa sangat sakit sekali? Ya, karena tulang-tulangku yang patah belumlah diluruskan. Tetapi di bapa Dik, setelah terlebih dahulu tulang-tulangku yang bermasalah di olah, lalu dipasang papan dan di ikat kembali, aku sudah tidak merasa sakit lagi.

Tapi, selama sebulan kaki kiriku dipasang papan benar-benar terasa menyiksa. Aku hanya terbaring dan yang melayaniku dari makan, minum, buang hajat dan lainnya adalah suamiku. Dan yang paling menyiksaku adalah aku tidak dapat selama bersama “Megami—putri kecilku” yang baru berusia 2 tahun 10 bulan. Itulah hal yang paling sulit aku terima.


Megami

Bagaimana rasanya seorang ibu yang harus berpisah dengan anaknya satu-satunya dan sedang lucu-lucunya. Aku selalu minta pada suamiku untuk menjemput Megami, tapi Megami hanya menengokku dengan neneknya di hari minggu. Ia tidak mau dekat denganku, ia merasa takut melihatku. Bagaimana tidak…. Tulang pipi kiriku membengkak sebesar buah jeruk, putik mataku berwarna merah dan kakiku terbalut papan dengan kain putih.

Bapa Dik menasehati ku dan suami supaya menjalani terapi beliau selama minimal dua bulan. Tapi, aku tak mampu berlama-lama berpisah dengan Megami.

Aku sempat berkenalan dengan beberapa pasien bapa Dik yang banyak. Diantaranya adalah dik Ari. Anak lelaki—pelajar SMP 1 Cirebon, tinggal di jalan bahagia, Cirebon—yang diterapi oleh bapa Dik sudah 2 bulan ketika aku baru datang. Ari menabrak trotoar yang menyebabkan kaki kirinya patah. Dan beberapa hari setelah aku disitu Ari sedang belajar jalan kaki dan beberapa hari kemudian ia boleh pulang.

Itu 10 bulan yang lalu. Dan bapa Dik-pun sudah berpulang kepada Sang Penciptanya. Saat ini aku masih menggunakan satu tongkat untuk berjalan. Biarlahlah kujalani ujian Allah ini dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Dan benar apa yang suamiku selalu ingatkan,”Allah akan ganti musibah ini dengan sesuatu yang jauh lebih baik”.

Saat ini banyak hal yang kudapat. Terutama aku dapat selalu bersama Megami dan suami -- yang selama ini selalu membimbingku, melindungi, menerima keluh kesahku, yang siap menghadapi tantangan hidup baik yang terasa menyenangkan maupun menyedihkan.

Aku lebih banyak membaca, mengkaji Al-Qur’an dan buku-buku tafsir serta hadits disamping buku-buku yang bermanfaat lainnya. Aku berusaha menulis apa yang pernah kulalui di masa laluku.

Friday, January 16, 2009

Aku Hidup Segan Mati Tak Mau

“Ummi, mau ada tamu wanita. Tolong ummi temui dia”, kata suamiku setelah kami sholat isya berjama’ah. Maka setelah beberapa saat aku mepersiapkan diri untuk menyambut tamu tersebut.

Teryata dia adalah mba ”A” yang sudah pernah satu kali bersilaturahmi kepadaku. Mba “A” berusia kurang lebih 30 tahun dengan 1 anak perempuan 3,5 tahun. Pada kunjungan yang pertama mba “A” mencurahkan permasalahan kehidupan yang dialaminya yang terasa begitu berat di jalani sampai ia mencucurkan airmata.

Pada saat itu aku dan suami hanya menasehatinya untuk tetap bersabar dan lebih banyak lagi membaca Al-Qur’an dan untuk memahami juga artinya. Mulai berpuasa sunnah, sholat tahajud dan sholat dhuha serta banyak beristigfar.

Mba “A” mejawab bahwa dia tidak sanggup lagi untuk sabar, “sampai kapan saya harus sabar, mba?” keluhnya kepadaku. Saat itu suamiku menjawabnya bahwa selama kita masih hidup, maka selama itu pula kita harus menanamkan kesabaran yang luar biasa pada diri kita hingga batasnya sampai Allah SWT mencabut nyawa kita. “Jadi, kesabaran memang harus selalu bersama kita sampai kita meninggal, mba” tambahku.

Sekitar jam 8 ba’da isya mba “A” datang ditemani saudaranya—seorang lelaki. Seperti biasa iapun langsung mengeluarkan segala isi hatinya. Terutama masalah proses perceraian dengan suaminya yang akan disidangkan dalam beberapa hari ke depan.

Lalu kebingungannya terhadap biaya hidup sehari-hari karena ia tidak bekerja sedangkan suami yang sedang dalam proses perceraian ini sudah tidak lagi member i nafkah kepada diri dan anaknya selama beberapa bulan sedangkan ia dan anaknya tinggal di rumah ibunya yang sudah menjanda sejak ia berusia 4 tahun ditambah ada dua anak piatu—anak dari kakak perempuan mba “A” yang sudah meninggal sementara suaminya tidak ada perhatian sama sekali kepada anak-anaknya hingga di titipkan kepada ibu mertuanya yaitu ibu dari mba “A”.

Berat memang masalah yang sedang dihadapi oleh mba “A” sampai iapun sempat berkata lebih baik ia mati saja, tetapi bila sudah mati ia takut masuk neraka karena ia merasa banyak berdosa. “Hidup segan mati tak mau” itulah ungkapan yang biasa kita dengar dari orang-orang yang sedang tertimpa masalah seperti kasus mba “A” tersebut.


Dari kasus mba “A”, aku benar-benar banyak bersyukur kepada Allah SWT. Di luar sana, banyak orang menghadapi permasalahan hidup dan berusaha mencari solusinya dengan bermacam-macam cara. Ada yang masih dalam koridor hukum agama, adapula yang sudah melenceng daripadanya.

Namun, dalam renunganku yang cukup panjang mempelajari kehidupan manusia, aku semakin yakin bahwa permasalahan hidup apapun, Al-Qur’an adalah solusinya. Aku dapati beberapa ayat tentang derajat seseorang yang dialaminya saat ini adalah buah dari apa yang ia tanam di masa lalu. Dan ketika kita mendapat suatu kebaikan, kita di ajarkan bahwa itu adalah dari Allah SWT, bukan karena kepandaian kita, tetapi apabila kita mendapatkan keburukan, yang kita tanamkan dalam hati adalah itu hasil dari perbuatan kita, dengan maksud supaya kita mengkoreksi diri terhadapa kesalahan-kesalahan yang mengakibatkan keburukan menimpa. Lalu katakanlah ketika keburukan yang menimpa kita, apa yang harus kita lakukan? Inilah jawabannya:

SURAT 2. AL BAQARAH, ayat 153
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Adapun tentang derajat, musibah dan sikap menghadapinya:
SURAT 6. AL AN'AAM, ayat 132
“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”.

SURAT 4. AN NISAA', ayat 79
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri”.

SURAT 42. ASY SYURA, ayat 30-31
“Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).
Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong selain Allah”.

SURAT 31. LUQMAN, ayat 17
“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.

SURAT 2. AL BAQARAH, ayat 155-156
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun"

Saturday, December 20, 2008

Antara Suamiku Dan Ayahku

Sebagai anak tertua aku mempunyai tanggung jawab untuk membantu orang tuaku membiayai kehidupan sehari-hari dan biaya sekolah adik-adik. Ayahku hanyalah seorang petani penggarap sehingga setelah lulus sekolah SGO (Sekolah Guru Olahraga) aku lebih memilih untuk bekerja. Dan telah kulalui masa-masa berat itu selama 13 tahun.

Alhamdulillah, dua dari ke tujuh adikku dapat menamatkan kuliahnya sedangkan salah satu aku titipkan pada temanku ikut bekerja sedangkan yang lainnya mendapatkan pekerjaan dengan usaha sendiri. Namun harga yang harus aku bayar, aku telat untuk menikah.

Aku hanya berdoa kepada Allah mohon diberi seorang suami yang dapat membimbingku dalam hal agama ataupun hal lainnya. Alhamdulillah Allah kabulkan do’aku.

Banyak ujian hidup sudah kulalui dan Alhamdulilah aku selalu bisa mengatasinya. Namun, ujian yang satu ini begitu berat. Tapi, Alhamdulillah aku dapat mengatasinya pula.

Pada tanggal 18 desember 2008, adikku datang ke rumah mengabarkan bahwa ayah kami sedang menjelang ajalnya dan sebagai anak tertua aku harus hadir. Sementara itu suamiku sedang sakit pula.

Pada saat itu aku dihadapkan pada dua pilihan. Datang menengok ayahku ataukah tetap disamping suamiku yang sedang sakit keras yang tidak dapat aku tinggalkan.

Maka aku memberanikan diri meminta izin suamiku tapi suami tidak mengijinkan. Akupun tidaklah mungkin tega meninggalkan suamiku yang sedang terkulai lemah yang membutuhkan perhatian yang maksimal dari istrinya. Maka sebagai seorang istri yang mengakui bahwa suami adalah pemimpinku, akupun mematuhi suamiku.

Aku teringat pada sebuah hadits :
“Dari Anas, ujarnya: “Rosululloh SAW bersabda: “Tidak patut seseorang sujud kepada orang lain. Sekiranya seseorang patut sujud kepada orang lain, tentu aku akan perintahkan seorang istri sujud kepada suaminya, karena begitu besar haknya kepada istrinya itu” (HR. Nasa’i)

Saat itu aku menangis. Keduanya orang yang aku sayangi dan aku hormati. Namun yang aku tahu, hak seorang istri adalah suaminya. Namun, apakah adik-adikku tahu akan hal ini? Sedang keilmuan agama mereka aku tahu betul.

Beberapa menit kemudian aku menerima telepon dari omku dengan nada marah dan sedikit memaksa yang menyuruhku untuk datang menengok ayah.
Akupun mohon maaf pada om bahwa aku tidak bisa datang karena suamiku sedang sakit keras.

Lalu beberapa menit kemudian adikku sms mengabarkan bahwa ayah telah meninggal dunia pada jam 1.55 wib. "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun", aku menangis di samping suamiku yang terbaring lemah di tempat tidur.

Ya Allah.....